Cara Mencegah Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi paru-paru. Penyakit pneumonia tidak menular, tetapi sering disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan atas di hidung dan tenggorokan, yang mungkin menular kepada Anda. Setiap tahunnya, sekitar lebih dari 250.000 orang harus menjalankan perawatan di rumah sakit karena pneumonia.

Pneumonia dapat terjadi pada siapa saja, individu dengan usia berapapun. Namun, bayi di bawah usia 2 tahun dan orang dewasa usia di atas 65 berisiko lebih tinggi untuk terkena pneumonia. Faktor risiko lain termasuk:

  • Tinggal di rumah sakit atau lingkungan yang dilembagakan menggunakan ventilator
  • Sering dirawat di rumah sakit
  • Sistem kekebalan tubuh Anda yang melemah
  • Penyakit paru-paru progresif, seperti COPD
  • Asma
  • Penyakit jantung
  • Merokok

Orang-orang lain yang berisiko untuk pneumonia aspirasi termasuk Anda yang:

  • Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan atau narkoba
  • Memiliki masalah medis yang mempengaruhi refleks muntah Anda, seperti cedera otak atau kesulitan menelan
  • Sedang dalam pemulihan dari prosedur bedah yang membutuhkan anestesi

Pneumonia aspirasi adalah jenis khusus infeksi paru-paru yang disebabkan oleh air liur, makanan, cairan, atau muntah yang tidak sengaja masuk ke paru-paru Anda dan tidak menular.

Bisakah Pneumonia Dicegah?

Iya. Anda dapat mengurangi risiko terkena pneumonia dengan mengikuti beberapa langkah sederhana. Dengan cara:

  1. Mendapatkan Vaksinasi

Dapatkan vaksin flu setiap tahun untuk mencegah Anda terkena penyakit influenza musiman. Flu adalah penyebab umum pneumonia, sehingga mencegah flu adalah salah satu cara yang baik untuk mencegah pneumonia.

Anak-anak yang lebih kecil dari 2 tahun dan orang dewasa usia 65 tahun dan lebih tua harus mendapatkan vaksinasi terhadap pneumonia pneumokokus, bentuk umum dari pneumonia bakteri. Vaksin pneumokokus juga direkomendasikan untuk semua anak dan orang dewasa yang berisiko tinggi terkena penyakit pneumokokus karena kondisi kesehatan lainnya. Ada dua jenis vaksin pneumokokus. Bicaralah dengan penyedia layanan kesehatan atau dokter Anda untuk mengetahui apakah salah satunya tepat untuk Anda.

Ada beberapa vaksin lain yang dapat mencegah infeksi oleh bakteri dan virus yang dapat menyebabkan pneumonia, termasuk pertusis (batuk rejan), cacar air dan campak. Silahkan bicarakan dengan dokter Anda mengenai vaksin yang sesuai untuk Anda.

Vaksin pneumonia sendiri memiliki beberapa efek samping, termasuk:

  • Kemerahan atau bengkak di tempat suntikan
  • Nyeri otot
  • Demam
  • Panas dingin
  1. Melindungi Kesehatan Anda dengan Mempraktekkan Cara Hidup Sehat

Cobalah untuk menjauh dari orang sakit. Jika Anda sakit, menjauhlah dari orang lain sebanyak mungkin agar tidak membuat mereka sakit. Anda juga dapat membantu mencegah pneumonia dengan:

  • Cuci tangan Anda secara teratur

Sering-seringlah mencuci tangan Anda, terutama setelah Anda bersin, pergi ke kamar mandi, mengganti popok, dan sebelum makan atau menyiapkan makanan.

  • Membersihkan permukaan yang banyak disentuh
  • Batuk atau bersin ke jaringan atau ke siku atau lengan Anda
  • Membatasi kontak dengan asap rokok atau berhenti merokok
  • Mengelola kondisi medis yang Anda miliki (seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung)

Jika Anda sudah terserang flu dan khawatir akan menjadi radang paru-paru, bicarakan dengan dokter Anda tentang langkah proaktif yang dapat Anda ambil. Kiat lainnya termasuk:

  • Pastikan Anda mendapatkan istirahat yang cukup saat pulih dari flu atau penyakit lainnya.
  • Minum banyak cairan untuk membantu menghilangkan kemampetan.
  • Gunakan pelembab udara.
  • Minum suplemen, seperti vitamin C dan zinc, untuk membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh Anda.

Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang cara melindungi diri Anda dari pneumonia dan segera kunjungi Dokter Anda untuk mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.

Read More
gelang kalung kesehatan

Fakta tentang Gelang dan Kalung Kesehatan

Tren gelang dan kalung kesehatan muncul silih berganti. Seiring waktu, muncul produk baru, jadi hits karena dipakai selebritas, ditambah pemasaran berantai dan mulut ke mulut yang agresif, meredup, hilang, lalu muncul jenis lain. Begitu terus, mulai dari karet yang dimiliki medan magnet, kalung batu, hingga jam tangan. Harganya mulai ratusan ribu sampai jutaan.

Meski mahal, hampir setiap produk laris di Indonesia. Pemasar dan pengguna meyakini produk mereka memiliki magnet, sehingga disebut terapi magnetik. Magnet status disisipkan di gelang karet, atau dari batu yang diyakini memiliki efek positif bagi tubuh.

Keyakinan bukan barang baru. Langone Medical Center di New York University, Amerika Serikat menyebutkan terapi magnet sudah ada setidaknya sejak dua ribu tahun silam. Magnet statis diklaim mampu mengubah medan bioenergetik yang mengelilingi tubuh dan menarik penyakit keluar. Klaim lain adalah sisipan magent itu dapat meningkatkan aliran darah, sehingga lebih cepat menyembuhkan jaringan rusak. Darah memang mengandung zat besi. Jadi, masuk akal jika disebut dapat ditarik oleh magnet.

Benarkah? Faktanya, besi dalam darah saling berikatan dengan hemoglobin dan tidak bersifat feromagnetik (menarik magnet). Jika darah bersifat feromagnetik, tubuh akan hancur saat menjalani pemeriksaan MRI, karena alat pemindai itu memiliki magnet yang ribuan kali lebih kuat dari aksesori kesehatan tersebut.

Metode terapi lain adalah aksesori yang berbahan kristal atau bebatuan alam. Pemasarnya meyakini bahan-bahan tersebut merupakan medium penyembuhan, dengan menjadi sumber energi positif masuk ke dalam tubuh dan mengeluarkan energi negatif penyebab penyakit. Masing-masing batu diyakini memiliki efek berbeda. Misalnya amethyst atau kecubung untuk kesehatan usus, aventurine hijau untuk jantung, topaz kuning untuk menjernihkan pikiran, dan sebagainya.

Sejumlah penelitian menyatakan terapi magnet maupun bebatuan tidak memiliki efek apa pun. Pada 2006, Profesor Leonard Finegold dari Drexel University, Philadelphia, Amerika Serikat, menyatakan tidak terdapat bukti magnet dan kawan-kawan berdampak positif bagi kesehatan. Kalau pun ada, manfaatnya kecil.

Christopher French dan kawan-kawan dari Goldsmiths College, University of London juga tidak mendapati bukti manfaat dari bebatuan dan kristal bagi kesehatan. Yang, ada hanyalah efek plasebo alias sugesti. Karena berbagai omongan dari pemasar atau teman, pemakai jadi ikut merasa lebih baik.

French membuktikannya dengan percobaan pada 80 responden yang diminta bermeditasi selama lima menit sembari memenang kristal kuarsa. Ada yang asli, ada yang tiruan. Responden tidak diberi tahu soal keaslian kristal. Hasilnya, mereka sama-sama merasakan sensasi hangat di tangan dan mengalami peningkatan stamina. Artinya, sugestilah yang membuat mereka merasakan efek positif.

Read More