disleksia pada anak

Mengenal Disleksia pada Anak

Ada momen-momen di masa sekolah anak yang membuat orang tua resah. Misalnya, saat prestasi anjlok. Sayangnya, banyak orang tua dan guru yang terlambat menyadari permasalahan yang dihadapi anaknya dan membuat si anak terperangkap dalam situasi stres dan depresi. Anak yang tidak kunjung lancar membaca, misalnya, bisa mendapat labeling “bodoh” dan sebagainya. Padahal, bisa saja anak itu mengidap disklesia.

Berasal dari bahasa Yunani, yang berarti kesulitan berbahasa, disklesia diteliti pertama kali pada 1896. Saat itu, Dokter Pringle Morgan dalam British Medical Journal menulis tentang Percy, anak laki-laki 14 tahun, yang pandai dan tidak memiliki kekurangan apa pun dari temannya, tapi tidak bisa membaca. Dia bahkan mengeja namanya sendiri dengan “Precy”.

Hingga kini, disleksia merupakan gangguan belajar yang paling sering terjadi, yaitu sekitar 80 persen dari gangguan belajar. Hal ini berasal dari proses input informasi yang berbeda dari anak normal. Penelitian terkini menunjukkan adanya perbedaan anatomi otak antara anak disleksia dengan anak normal, yakni di bagian temporal-parietal-oksipital (otak bagian samping dan belakang). Anak disleksia tidak hanya kesulitan membaca, dia juga sukar mengeja, menulis, dan aspek bahasa lain.

Anak dengan disklesia bisa dikenali dengan mengenali masalah yang mereka alami, sebagai berikut.

1. Masalah fonologi

                Hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya, sulit membedakan “palu” dan “paku”, atau keliru memahami kata-kata dengan bunyi yang hampir sama, seperti “lima puluh” dan “lima belas”. Kesulitan ini tidak berkaitan dengan pendengaran.

2. Masalah mengingat perkataan

                Kebanyakan anak disleksia memiliki tingkat kecerdasan normal–bahkan banyak yang di atas normal–namun mereka kesulita mengingat kata-kata. Ketimbang menyebut nama, mereka biasanya menyebut “temanku di sekolah”, “temanku yang laki-laki itu”, dan lainnya.

3. Masalah penyusunan yang sistematis atau sekuensial

                Anak disleksia biasanya mengalami kesukaran menyebut suatu urutan. Misalnya, urutan nama bulan, susunan aktivitas harian. Kadang mereka juga kesulitan dengan perhitungan sederhana, seperti apakah uang yang dipegang cukup untuk membeli kue.

4. Masalah ingatan jangka pendek

                Anak disleksia kesulitan memahami instruksi panjang. Misalnya, perintah ibu untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti baju, cuci kaki dan tangan, lalu turun lagi untuk makan siang sama ibu, tapi jangan lupa bawa buku PR matematika, ya.”

5. Masalah memahami tata bahasa

                Hal ini biasa ditemui pada anak disleksia yang bilingual dengan susunan bahasa berbeda, seperti bahasa Indonesia dan Inggris. Misalnya, tertukar-tukar dalam menyebut tas biru (diterangkan-menerangkan) dan blue bag (menerangkan-diterangkan).

Di samping masalah-masalah tersebut, anak dengan disleksia juga dapat dikenali dengan tanda-tanda berikut:

– Kesulitan mengenali huruf dan mengejanya.

– Kesulitan mengerjakan pekerjaan tertulis secara terstruktur, misalnya menulis essay.

– Tertukar antara huruf yang mirip, seperti “b” dan “d”, “p” dan “q”, “m” dan “w”, “s” dan “z”.

– Tidak membaca dengan tepat, misalnya menghilangkan awalan dan kata penghubung.

– Tulisan tangan buruk.

– Kesulitan membedakan kanan dan kiri.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, disleksia bukanlah kondisi yang bisa diatasi lewat terapi atau pengobatan. Anak dengan disleksia akan membawa masalah tersebut seumur hidupnya. “Kesembuhan” anak dari disleksia disebutkan individu itu berhasil menemukan cara mengatasi masalah dirinya.

Hal yang perlu diperhatikan adalah memberi perhatian khusus bagi anak dengan disleksia. Berikut beberapa tips yang bisa dijalani:

– Orang tua perlu menjalin komunikasi khusus dengan guru dan sekolah.

– Guru bisa menempatkan anak dengan disleksia di bangku paling depan, sehingga bisa melihat apakah instruksinya dijalankan dengan benar. Misalnya, memastikan anak membuka halaman 15 sesuai arahan, bukannya halaman 50.

– Beri toleransi, misalnya saat terlambat menyalin soal di papan tulis, guru memberikan soal dalam bentuk tertulis di kertas.

– Memberikan kesempatan menggunakan pendekatan berbeda. Kebanyakan anak dengan disleksia biasanya memiliki cara lain untuk menyelesaikan soal matematika.

– Perhatikan emosi anak. Anak dengan disleksia biasa menjadi sensitif, terutama jika merasa berbeda dibanding teman-temannya. Terlebih saat mendapati prestasi akademiknya turun, sehingga menjadi tidak percaya diri. Jangan sekali-kali membandingan dia dengan teman dan saudaranya. Perlu dukungan orang tua dan guru untuk meningkatkan motivasinya.

Referensi: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/mengenal-disleksia, https://indigrow.wordpress.com/2010/10/29/disleksia-si-pintar-yang-sulit-membaca/

Read More